Showing posts with label Earth needs help. Show all posts
Showing posts with label Earth needs help. Show all posts

Thursday, 18 October 2012

Gletser Papua Terancam Hilang dalam 20 Tahun

Kondisi gletser di Puncak Jaya diambil dari Citra Landsath. Foto di ujung kiri merupakan kondisi di tahun 1990 yang memperlihatkan lima gletser. Seiring foto yang berderet ke kanan, jumlah itu makin menyusut hingga foto di ujung kanan pada tahun 2010. Hanya tiga gletser dengan kondisi mengenaskan yang tersisa. (Warsono/NGI)

KOMPAS.com - Pemanasan global mulai memperlihatkan dampaknya pada penghuni Bumi. Bukti keberadaannya kali ini dirasakan oleh masyarakat Indonesia dengan foto dari satelit NASA mengenai kondisi es di Puncak Jaya, Papua.

Imaji satelit yang dirilis pekan lalu oleh NASA menunjukkan hilangnya gletser di Puncak Jaya yang merupakan bagian dari Barisan Sudirman. Puncak Jaya memiliki nama lain Carstenz Pyramid, warga lokal menyebutnya Ndugu-Ndugu.

Foto diambil menggunakan Thematic Mapper (TM) di Landsat 4 dan 5. Di ketinggian 4.884 meter, foto satelit NASA membandingkan kondisi gletser di tahun 1989 dan 2009. Tahun 1989, ada lima gletser di Puncak Jaya. Namun, 20 tahun kemudian, tepatnya pada 2009, dua dari lima gletser itu hilang sama sekali. Sedangkan sisa tiga gletser lainnya berkurang secara drastis.

Menurut Ardheshir Yaftebbi, salah satu pendaki dalam ekspedisi 7 Summits yang mencapai puncak Carstenz Pyramid -puncak tertinggi di komplek Pegunungan Jayawijaya- pada April 2010, ia dan timnya menjadi saksi penyusutan es.

"Saat itu kita melihat salju (di sekitar Carstenz Pyramid) hanya tinggal dua kilometer persegi. Di tahun 1930, salju itu mencapai 20 kilometer persegi," kata Ardhesir saat berbincang dengan National Geographic Indonesia, Rabu (5/9).

Ditambahkannya hal ini sangat menyedihkan karena Puncak Jaya merupakan satu-satunya lokasi di Indonesia yang memiliki es. "Jayawijaya disebut sebagai es abadi, tapi ternyata diprediksi tidak akan ada salju lagi pada lima hingga sepuluh tahun mendatang," ujar Ardeshir yang juga Ketua Tim Ekspedisi 7 Summits yang dimulai tahun 2010 dan berakhir pada Juni 2012.

Carstenz Pyramid masuk sebagai tujuh puncak tertinggi di dunia. Bersama dengan Gunung Kilimanjaro (Tanzania, Afrika), Elbrus (Eropa), Aconcagua (Amerika Selatan), Denali (Amerika Utara), Vinson Massif (Antartika), dan Everest (Nepal, Asia).

Dengan kondisi suhu Bumi saat ini, NASA memprediksi seluruh gletser di Papua akan musnah pada 20 mendatang. Para peneliti juga sudah menyebutkan, hal ini terjadi karena berbagai faktor. Seperti perubahan suhu, kelembapan, hujan, dan pergerakan awan. Kondisi iklim dan penggundulan hutan juga turut berpartisipasi.

"Ini bukan peringatan pertama dan bukan hanya terjadi di negara kita. Es di Antartika juga mencair dan berada pada titik terendah," kata Direktur Program Iklim dan Energi WWF Nyoman Iswarayoga.

Untuk mencegah perubahan iklim lebih lanjut bisa dilakukan beberapa hal, baik secara kolektif maupun individu. Kolektif bisa berwujud gerakan masyarakat yang diwadahi pemerintah. Sedangkan gerakan individu dimulai dengan perubahan gaya hidup yang lebih "hijau." (Zika Zakiya/National Geographic Indonesia).

Tiga Primata Indonesia Masuk Kategori Paling Terancam Punah




NEW DELHI, KOMPAS.com — Tiga spesies primata dari Indonesia, yaitu tarsius gunung (Tarsius pumilus), kukang jawa (Nycticebus javanicus), dan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor), masuk dalam daftar "25 Primata Paling Terancam Punah 2012-2014."

Daftar ini dikeluarkan oleh koalisi grup konservasi dalam Convention on Biological Diversity PBB di Hyderabad, India, Senin (15/10/2012). Asal primata yang paling mencolok berasal dari tiga negara, termasuk Indonesia, yang memiliki primata terancam punah lebih dari dua spesies. 

Ketiga negara itu yakni Madagaskar (enam spesies), Vietnam (lima spesies), dan Indonesia (tiga spesies). Dikatakan para peneliti yang terlibat dalam penyusunan daftar tersebut, kebanyakan spesies monyet di Asia terancam karena banyak hal.

Bukan hanya karena perburuan dan kehilangan habitat, melainkan juga perburuan anggota tubuh untuk memuaskan permintaan (pasar) masyarakat Asia untuk masakan eksotis, obat-obatan, dan zat perangsang.

Tarsius gunung (Tarsius pumilus) dari Sulawesi diperkirakan punah sejak tahun 2000. "Hanya ada empat individual yang pernah tercatat oleh peneliti," ujar Christoph Schwitzer, Kepala Penelitian dari Bristol Conservation and Science Foundation (BCSF).

Kukang jawa (Nycticebus javanicus) masuk kategori terancam punah karena sering diburu untuk peliharaan. Spesies ini juga pernah masuk dalam daftar spesies terancam punah pada tahun 2008-2010.

Lain lagi dengan monyet simakobu atau biasa disebut monyet ekor babi (Nasalis concolor). Sama seperti primata lain, ancaman utama untuk monyet simakobu adalah kehilangan habitat akibat pembukaan lahan di hutan dan perburuan untuk dijadikan peliharaan.

"Primata adalah saudara terdekat kita dan kemungkinan spesies terbaik untuk hutan hujan kita. Penting juga dicatat jika primata adalah spesies kunci dari rumah hutan tropis," kata Russell Mittermeier, President of Conservation International.

Spesies teratas dalam daftar "25 Primata Paling Terancam Punah 2012-2014" adalah lemur yang berasal dari Madagaskar.

Perubahan Iklim Ancam 100 Juta Nyawa Manusia



LONDON, KOMPAS.com - Lebih dari 100 juta orang akan mati dan pertumbuhan ekonomi global akan turun sebesar 3,2 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2030 jika dunia gagal mengatasi masalah perubahan iklim.

Seiring suhu rata-rata global meningkat akibat emisi gas rumah kaca, serangkaian dampak bisa dirasakan planet Bumi antara lain mencairnya es, cuaca ekstrim, kekeringan, dan naiknya permukaan air laut. Semua hal tersebut mengancam populasi dan kesejahteraan hidup manusia, kata organisasi kemanusiaan DARA dalam sebuah laporannya.

Berdasarkan laporan, lima juta kematian yang terjadi setiap tahunnya akibat polusi udara, kelaparan, dan penyakit akibat perubahan iklim serta pemanfaatan karbon secara intensif. Total kematian kemungkinan akan meningkat menjadi enam juta per tahun pada tahun 2030, jika pola penggunaan bahan bakar fosil terus menerus dilakukaan saat ini.

Lebih dari 90 persen kematian akan terjadi di negara berkembang. DARA membuat laporan ini berdasarkan penghintungan dampak perubahan iklim terhadap manusia dan perekonomian pada 184 negara pada tahun 2010 dan 2030. Mereka ditugaskan oleh Climate Vulnerable Forum yang beranggotakan 20 negara berkembang yang terancam oleh perubahan iklim.

"Krisis gabungan iklim dan karbon diperkirakan mengancam 100 juta jiwa antara saat ini sampai dengan akhir dekade berikutnya," demikian dinyatakan dalam laporan tersebut.

Dikatakan bahwa dampak perubahan iklim telah menurunkan produksi global sebesar 1,6 persen dari PDB dunia atau sekitar 1,2 triliun US dollar per tahun. Kerugian tersebut bisa naik dua kali lipat dari PDB global pada tahun 2030, jika suhu global dibiarkan naik melebihi 10 persen dari sebelum tahun 2010.

Diperkirakan biaya untuk mengubah dunia menjadi berekonomi rendah karbon sekitar 0,5 persen dari total GDP dekade ini. Ekonom asal Inggris, Nicholas Stern mengatakan, investasi hingga 2 persen dari PDB global diperlukan untuk membatasi, mencegah dan beradaptasi dengan perubahan iklim.

Laporannya mengenai ekonomi perubahan iklim tahun 2006 menyatakan bahwa kenaikan suhu rata-rata global antara 2-3 derajat celcius dalam 50 tahun ke depan akan mengurangi konsumsi global per kapita hingga 20 persen.

Saat ini suhu telah meningkat 0,8 derajat Celcius di atas temperatur masa pra-industri. Hampir 200 negara sepakat pada tahun 2010 untuk membatasi kenaikan suhu rata-rata global di bawah 2 derajat Celcius sehingga dampak berbahaya dari perubahan iklim bisa dihindari.

Para pakar iklim memperingatkan bahwa kemungkinan untuk membatasi kenaikan hingga dibawah 2 derajat celcius semakin kecil karena emisi gas rumah kaca global meningkat akibat penggunaan bahan bakar fosil.

Negara-negara miskin di dunia adalah yang paling rentan karena mereka menghadapi peningkatan resiko kekeringan, kekurangan air, kemiskinan dan penyakit. Rata-rata mereka bisa mengalami kerugian 11 persen dari PDB pada 2030 akibat perubahan iklim, kata DARA.

"Satu derajat Celcius kenaikan suhu setara dengan 10 persen penurunan produktivitas dalam pertanian. Bagi kami, itu berarti kehilangan sekitar 4 juta metrik ton biji-bijian senilai 2,5 milliar dollar. Jumlah tersebut adalah sekitar 2 persen dari PDB kita," kata Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina dalam menanggapi laporan tersebut.

"Ditambah kerusakan pada properti dan kerugian lainnya, kita dihadapkan pada kerugian total sekitar 3-4 persen dari PDB" tambahnya.

Bahkan negara-negara yang besar juga akan terkena dampaknya. Amerika Serikat dan China bisa mengalami penurunan 2,1 dari PDB masing-masing pada tahun 2030, sementara India bisa mengalami kerugian lebih dari 5 persen.

September 2012 Tercatat sebagai Bulan Terpanas


WASHINGTON, KOMPAS.com - September 2012 tercatat sebagai bulan terpanas. Hasil pengukuran National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan bahwa suhu rata-rata global pada bulan tersebut adalah 60,2 derajat Fahrenheit atau 15,67 derajat Celsius.

Satu hal menarik, ini ketiga kalinya sejak tahun 2000 bulan September memecahkan rekor. Sebelumnya, bulan terpanas juga terjadi pada September 2003 dan 2005. NOAA menyatakan, rekor suhu terpanas pun pernah terjadi pada September tahun 1880.

Kepala bagian pemantauan iklim dari NOAA, Deke Arndt, mengatakan bahwa sangat berharga untuk menyelidiki mengapa September identik dengan rekor suhu terpanas. Penelitian diharapkan bisa mengungkap faktor penyebabnya.

Andrew Weaver, pakar iklim dari University of California mengatakan, kemungkinan penyebab September selalu menjadi bulan terpanas adalah pemanjangan musim panas di belahan utara Bumi sebagai akibat dari ulah manusia serta terus menipisnya es di laut Arktik yang membantu mendinginkan Bumi.

Di belahan bumi utara, faktor yang menyebabkan lamanya musim panas kemungkinan adalah La Nina, kebalikan dari El Nino yang menyebabkan suhu menurun. Kemungkinan penyebab lain adalah pemanasan di Arktik yang berdampak pada rekor pencairan es tertinggi beberapa waktu lalu. 

September Ceria berduka
Weaver meyakini, suhu terpanas diakibatkan oleh ulah manusia. Secara umum, bulan September 2012 menjadi bulan terpanas ke 16 sejak tahun 2000. Di ekstrem lain, rekor bulan terdingin pernah terjadi pada Desember 1916.

Weaver seperti dikutip AP, Senin (15/10/2012), mengatakan, "Apa yang terlihat kali ini persis seperti apa yang diprediksikan oleh para pakar iklim sekitar 20-30 tahun yang lalu." 

Meski bulan lalu tercatat sebagai yang terpanas, suhu di Amerika Serikat sendiri tercatat hanya ke-23 terpanas. 

Menanggapi laporan NOAA, beberapa kalangan yang skeptis pada pemanasan global mengatakan bahwa berdasarkan laporan koran di Inggris, pemanasan sudah tidak terjadi sejak 2007. Namun, badan meteorologi dan klimatologi Inggris serta Weaver menyatakan bahwa laporan tersebut misleading.

"Saya tak tahu data apa yang mereka pakai. Tahun 2010 adalah tahun terpanas dan 2005 adalah kedua terpanas," ungkap Weaver. Di samping itu, pengukuran suhu menunjukkan bahwa top 10 suhu terpanas memang terjadi setelah tahun 1997.

Tuesday, 2 October 2012

10 Coldest Place in the world


This post is about the coldest places in the world. Places from different localities which have coldest climatic conditions with temperature which may be freezing even at its maximum have been enlisted in this post. Although there may be other places which are colder as well but only the top 10 coldest places in the world have been put in the list having the temperature description of two different places from the same countries. That means, five countries possess two coldest places each.
coldest places 10 Coldest Places In The World


Following are the coldest places enlisted with the temperatures in Fahrenheit as well as Celsius below:


10). Rogers Pass, Montana-US:

This is the tenth coldest place in the world which is continentally divided in Northern side of Montana located in United States of America. This is favorite place of flying birds going towards East. Swans, Canadian geese, golden eagles, bald eagles, snow geese and other type of winter animals are often seen at this Pass. The coldest month of this place is March and April. The extreme coldest Celsius temperature of -56.5C was recorded at this Pass and the Fahrenheit temperature was -69.7F.

09). Fort Selkirk, Yukon-Canada:

This place is located in the region of Yukon situated in the country of Canada. Fort Selkirk is the ninth ranking coldest place among the coldest places in the World. This town was almost deserted because of the extreme cold climatic conditions in 1950s. But now, it has been restored somehow due to certain suitable arrangements made at this place. No matter, that it can only be reached by boat or by air. The coldest month of Fort Selkirk is January. The extreme coldest Celsius temperature was recorded as -58.9C and Fahrenheit temperature was -74F.

08). Prospect Creek, Alaska- USA:

This place experiences a sub-arctic type of climatic condition which means that the season at this place is a long-term winter season and through the year there is only a shorter time for the mild summers. Prospect Alaska was somehow expanded because of the construction of trans-Alaska. But now when the weather conditions are even severe, this place has become much smaller than before. The coldest month of this place is February. The extreme coldest temperature in Celsius was recorded as -62Cand the Fahrenheit temperature as -79.6F.

07). Snag, Yukon-Canada:

Snag is another coldest place in Yukon situated in Canada likewise Fort Selkirk ranking on sixth number. It is a small village on a small dry and cold weathered side-road turned to Alaska Highway. It is situated in bowl-shaped valley of White River in Yukon of Canada. The sky is full of fog at this place and the weather is very chill and freezing. Frequent cold wind flows continuously with great frost. The coldest month of this place is January. The extreme coldest temperature in Fahrenheit was recorded as -81.4F and in Celsius as -65C.

06). Eismitte-Greenland:

This is the sixth numbered coldest place in the world situated in Greenland. In English, Eismitte is also called as Mid-Ice. It was a site in the interior Arctic side of Greenland. In German, Eismitte means Ice-Center. Literally, this place is meant to be the perfect place delivering a perception of ice around everywhere at this place, Eismitte. The coldest month is February of this place. The coldest extreme temperature recorded in Fahrenheit was -84.8F and -64.9C in Celsius.

05). North Ice-Greenland:

This place comes on the fifth number among the top coldest areas in the world. This place is the name of a research station which was once occupied and expanded indeed by the British North Greenland Expedition between the times 1952 to 1954. This research center was situated on the inland ice of this Northern place. The coldest month this place experiences is the month of February. The extreme coldest temperature in Fahrenheit is -86.8F and in Celsius is -66C.

04). Verkhoyansk-Russia:

This coldest place is a small town in Sakha Republic situated in Russia. It is a town which experiences great differences between the extreme summer season and the peak of winter season. The temperature changes with the alternation of the seasons with the passage of time. However, it is one the coldest place in the winter season and the winter time is more than the summer time in Verkhoyansk. The coldest period of this place is the month of July. The extreme cold temperature in Fahrenheit is -89.8F and in Celsius is -67.7C.

03). Oymyakon-Russia:

It is a valley in the Khrabet Mountains and a village in Sakha Republic of Russia. This is another but colder area of Russia again than Verkhyansk. This place again experiences extreme subarctic climate with long lasting winters for a longer period of time. The coldest month of this Russia’s place is the month of February. The extreme coldest temperature in Fahrenheit is -96F and -71.1C in Celsius.

02). Plateau Station-Antarctica:

This is the second ranking place among the coldest places. This is a mothballed American Research and theatrical production station on the Antarctic Plateau. The station was closed in 1969 and the coldest month at this place is the month of July. The extreme coldest temperature in Fahrenheit recorded was -119.2F and in Celsius was -84C.

01). Vostok-Antarctica:

This is the top coldest place among the other entire coldest place in the world situated in Antarctica. This is an Antarctic Russian Station for the research. This pole of cold is on the Southern side of Russia experiencing the coldest temperature ever. This place has the lowest authentication for the normal natural measured temperature of the atmosphere on the Earth. The coldest month is the month of August in Vostok. The extreme coldest temperature recorded at this place in Fahrenheit is -128.6F and -89.2C in Celsius.

source : http://www.tiptoptens.com/2011/04/30/10-coldest-places-in-the-world/

10 Hottest Places In The World


There are many places on this Earth which are very hot almost at every time of the year. In fact, the hotness can be sometimes record-breaking due to the exceeded limit of temperature. Mostly people do not go out of their homes in the hottest places. People who are poor and can’t afford air-conditioner expenses are dying in fact. Some places are hot and dry indeed which makes the weather even more unfavorable for the residents of that place.
hottest places 10 Hottest Places In The World
The top 10 hottest places in the world have been enlisted with the extreme temperature both in Fahrenheit (F) and Celsius (C) in this post below:

10). Wadi Halfa-Sudan:

The tenth ranking place is Wadi-Halfa in Sudan which experiences hot as well as dry climate. The hottest month of Wadi-Halfa is June. The Fahrenheit extreme temperature of this place is 127F and the Celsius temperature is 52.78C.

09). Agha Jari-Iran:

This is 9th hottest place in the world. The hottest month of Agha Jari is July. The extreme temperature in Fahrenheit is 128F and the temperature in Celsius is 53.33C.

08). Ahwaz-Iran:

This place is Iran’s another hottest place and the hottest month of Ahwaz is August. The extreme temperature in Fahrenheit is 128.3F and the temperature in Celsius is 53.50C.

07). Tirat Tavi-Israel:

This place is situated in the territory of Israel and the hottest month of Tirat Tavi is June. The extreme temperature in Fahrenheit is 129F and the temperature in Celsius is 53.89C.

06). Araouane-Mali:

This 6th ranking hottest place is situated in the region of Mali. The hottest month of this place is May. 130F is the extreme temperature in Fahrenheit and 54.44C is the temperature in Celsius.

05). Timbouctou-Mali:

This is another hottest place of Mali with April as its hottest place. The temperature of this place at extreme is 130.1F in Fahrenheit and the Celsius temperature is 54.50C.

04). Kebili-Tunisia:

This place is located in the territory of Tunisia. This place experiences its hottest month in the month of July and the extreme temperature in Fahrenheit at this place is 131F and the Celsius temperature is 55C.

03). Ghudamis-Libya:

This is 3rd numbered hottest place with the same hottest temperature as that of Kebili. It is located in the region of Libya and experiences its hottest month from May to September. The extreme temperature in Fahrenheit is 131F and 55C is the temperature in Celsius.

02). Greenland Ranch-United States:

The second top hottest place is Greenland Ranch located in United States. The hottest month of this place is the month of July and the extreme temperature in Fahrenheit is 134F and Celsius temperature is 56.67C.

01). Al’Aziziyah-Libya:

This is the hottest place among the other all places again in Libya which experiences the month of September as its hottest month. 136.4F is the extreme temperature in Fahrenheit at this place and the Celsius extreme temperature is 58.01C.

10 Driest Places In The World


This post is about those places which are dry almost throughout the whole time period. Rain falls rarely at these dry places and the temperature is high every day. Dry places, mostly deserts have dry climatic conditions which have continuous evaporation and transpiration that exceeds the water deficiency limit. The weather is not moist and the dry blowing air flows everywhere at the dry places.
Following is the list of top 10 driest places in the world ranging from Callao in Peru to Africa in Chile with their average rainfall measure in mm per year:

Dry Places 10 Driest Places In The World

10). Callao-Peru:

Callao is the Peru’s most important and largest port and it is located on the West side of the country’s capital ‘Lima’. The average rainfall at this place is very low, i.e. only 12.191mm per year due to which this place is one the most dry places.

09). Aoelef-Algeria:

This place is situated in the country of Algeria. In this region, the days can be hot throughout the year because this area comprises majority part of the desert area which predicts this place containing hot and dry climatic and atmospheric conditions. The rainfall is very rarely happening with the measure of 12.19mm per year.

08). Pelican Point-Namibia:

This point is a suburb of Western Australia in Namibia from the North-Eastern side which is bounded to the South and West side of the Railway port to the Old Coast Road from the East side. The measure of very little rainfall per year of Pelican Port is 8.13mm.

07). Iquique-Chile:

This is a Chile’s territory’s place which is a port city and a smallest Chile’s administrative subdivision region. This place is the capital of Iquique province and it is one of the driest places in the world. The rate of annual rainfall is 5.08mm at this place.

06). Wadi Halfa-Sudan:

This place experiences driest as well as hottest climatic conditions due to continuous evaporation and transpiration as this place is one of those places which are mostly classified into dry and hot deserted areas. The rainfall measure is very low at this place, i.e., 2.54mm.

05). Ica-Peru:

This is another Peru’s dry region which is the capital of Ica region in the Southern side of Lima along the desert coast of South of Peru. This is a very dry place due to the harsh winds blowing everywhere at this place. The ratio of rainfall per year is 2.29mm.

04). Luxor-Egypt:

It is a city of Egypt situated at the Southern side of Egypt. Rainfall in Rainfall is very rare at this place. The highest temperature at this place was recorded as 57 Degrees Celsius. The rainfall measure per annum is 0.862mm.

03). Aswan-Egypt:

Aswan is another dry region of Egypt. It is t he hottest city of Egypt due the hot and dry atmosphere and unfavorable climatic conditions. It is located on the South side of Egypt and the rainfall per year is 0.861mm.

02). Al’Kufrah-Libya:

This place is situated in the country of Libya. Al’Kufrah is the largest district of Libya. The capital of it is Al’Jawf which is one of the oases in the Kufra basin. The average rainfall measure per annum at this place is 0.86mm.

01). Arica-Chile:

Chile’s another driest as well as the driest place of all other dry places is Arica situated in Chile. It is known as ‘the city of eternal spring’ which is the capital of Arica province as well as the Arica and Parinacota region. The average measure of very little rainfall per year at this place is 0.76mm.

Monday, 1 October 2012

Betapa Malangnya Negeri ini...



Indonesia merupakan rumah dari hutan hujan terluas di seluruh Asia, meski Indonesia terus mengembangkan lahan-lahan tersebut untuk mengakomodasi populasinya yang semakin meningkat serta pertumbuhan ekonominya. 

Sekitar tujuh belas ribu pulau-pulau di Indonesia membentuk kepulauan yang membentang di dua alam biogeografi - Indomalayan dan Australasian - dan tujuh wilayah biogeografi, serta menyokong luar biasa banyaknya keanekaragaman dan penyebaran spesies. Dari sebanyak 3.305 spesies amfibi, burung, mamalia, dan reptil yang diketahui di Indonesia, sebesar 31,1 persen masih ada dan 9,9 persen terancam. Indonesia merupakan rumah bagi setidaknya 29.375 spesies tumbuhan vaskular, yang 59,6 persennya masih ada. 

Penebangan Hutan 

Saat ini, hanya kurang dari separuh Indonesia yang memiliki hutan, merepresentasikan penurunan signifikan dari luasnya hutan pada awalnya. Antara 1990 dan 2005, negara ini telah kehilangan lebih dari 28 juta hektar hutan, termasuk 21,7 persen hutan perawan. Penurunan hutan-hutan primer yang kaya secara biologi ini adalah yang kedua di bawah Brazil pada masa itu, dan sejak akhir 1990an, penggusuran hutan primer makin meningkat hingga 26 persen. Kini, hutan-hutan Indonesia adalah beberapa hutan yang paling terancam di muka bumi. 

Jumlah hutan-hutan di Indonesia sekarang ini makin turun dan banyak dihancurkan berkat penebangan hutan, penambangan, perkebunan agrikultur dalam skala besar, kolonisasi, dan aktivitas lain yang substansial, seperti memindahkan pertanian dan menebang kayu untuk bahan bakar. Luas hutan hujan semakin menurun, mulai tahun 1960an ketika 82 persen luas negara ditutupi oleh hutan hujan, menjadi 68 persen di tahun 1982, menjadi 53 persen di tahun 1995, dan 49 persen saat ini. Bahkan, banyak dari sisa-sisa hutan tersebut yang bisa dikategorikan hutan yang telah ditebangi dan terdegradasi. 


Efek dari berkurangnya hutan ini pun meluas, tampak pada aliran sungai yang tidak biasa, erosi tanah, dan berkurangnya hasil dari produk-produk hutan. Polusi dari pemutih khlorin yang digunakan untuk memutihkan sisa-sisa dari tambang telah merusak sistem sungai dan hasil bumi di sekitarnya, sementara perburuan ilegal telah menurunkan populasi dari beberapa spesies yang mencolok, di antaranya orangutan (terancam), harimau Jawa dan Bali (punah), serta badak Jawa dan Sumatera (hampir punah). Di pulau Irian Jaya, satu-satunya sungai es tropis memang mulai menyurut akibat perubahan iklim, namun juga akibat lokal dari pertambangan dan penggundulan hutan. 

Penebangan kayu tropis dan ampasnya merupakan penyebab utama dari berkurangnya hutan di negara itu. Indonesia adalah eksportir kayu tropis terbesar di dunia, menghasilkan hingga 5 milyar USD setiap tahunnya, dan lebih dari 48 juta hektar (55 persen dari sisa hutan di negara tersebut) diperbolehkan untuk ditebang. Penebangan hutan di Indonesia telah memperkenalkan beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia pada pembangunan. Setelah berhasil menebangi banyak hutan di daerah yang tidak terlalu terpencil, perusahaan-perusahaan kayu ini lantas memperluas praktek mereka ke pulau Kalimantan dan Irian Jaya, dimana beberapa tahun terakhir ini banyak petak-petak hutan telah dihabisi dan perusahaan kayu harus masuk semakin dalam ke daerah interior untuk mencari pohon yang cocok. Sebagai contoh, di pertengahan 1990an, hanya sekitar 7 persen dari ijin penambangan berada di Irian Jaya, namun saat ini lebih dari 20 persen ada di kawasan tersebut. 

Di Indonesia, penebangan kayu secara legal mempengaruhi 700.000-850.000 hektar hutan setiap tahunnya, namun penebangan hutan illegal yang telah menyebar meningkatkan secara drastis keseluruhan daerah yang ditebang hingga 1,2-1,4 juta hektar, dan mungkin lebih tinggi - di tahun 2004, Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan bahwa 75 persen dari penebangan hutan di Indonesia ilegal. Meskipun ada larangan resmi untuk mengekspor kayu dari Indonesia, kayu tersebut biasanya diselundupkan ke Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia lain. Dari beberapa perkiraan, Indonesia kehilangan pemasukan sekitar 1 milyar USD pertahun dari pajak akibat perdagangan gelap ini. Penambangan ilegal ini juga merugikan bisnis kayu yang resmi dengan berkurangnya suplai kayu yang bisa diproses, serta menurunkan harga internasional untuk kayu dan produk kayu.




Agrikultur 
Beberapa tahun terakhir ini, wilayah hutan yang luas telah banyak diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Perkebunan kelapa sawit di Indonesia bertambah dari 600.000 hektar di tahun 1985 hingga lebih dari 4 juta hektar pada awal 2006 ketika pemerintah mengumumkan rencana untuk mengembangkan 3 juta hektar tambahan untuk perkebunan kelapa sawit di tahun 2011. Kelapa sawit (Elaeis guineensis) adalah tanaman perkebunan yang sangat menarik, karena merupakan minyak sayur termurah dan memproduksi lebih banyak minyak per hektar bila dibandingkan dengan bibit minyak lainnya. Di masa ketika harga energi cukup tinggi, minyak sawit tampak sebagai jalan terbaik untuk memenuhi meningkatnya permintaan biofuel sebagai sumber energi alternatif. 

Walau menghabisi hutan hujan yang masih alami dan perkebunan kelapa sawit boleh dibuat di atas lahan hutan yang telah terdegradasi, penggundulan hutan diijinkan asalkan prosesnya dinyatakan sebagai langkah awal untuk mendirikan perkebunan. Karenanya perkebunan kelapa sawit kerap menggantikan hutan alami. Yang tengah menjadi kepedulian para pemerhati hutan adalah proyek 2 juta hektar yang direncanakan di Kalimantan Tengah. Rencana ini - yang dibiayai oleh Cina dan didukung oleh pemerintah Indonesia - telah dikritik oleh kelompok-kelompok peduli lingkungan hidup. Menurut mereka pengubahan hutan alami menjadi monokultur pohon kelapa sawit mengancam keanekaragaman hayati dan sistem ekologi. World Wildlife Fund, yang selama ini termasuk vokal mengutuk kondisi tersebut dan mempunyai beberapa peneliti di lapangan untuk menaksir wilayah yang potensial terpengaruh, telah mengeluarkan beberapa laporan tentang keberagaman biologis di daerah tersebut (361 spesies baru ditemukan di Borneo antara tahun 1994-2004).


Cara tercepat dan termurah untuk mengosongkan suatu lahan baru untuk perkebunan adalah dengan membakarnya. Tiap tahun, ratusan dari ribuan hektar are berubah menjadi asap saat para pengembang dan petugas perkebunan terburu-buru menyalakan api sebelum musim hujan datang. Di musim kemarau - terutama selama tahun-tahun el Nino - api ini dapat terbakar di luar kendali selama berbulan-bulan, menyebabkan polusi mematikan yang mempengaruhi negara-negara tetangga dan menyebabkan berkobarnya pula kemarahan politis. 

Di tahun 1982-1983, lebih dari 9,1 juta are (3,7 juta hektar) terbakar di Borneo sebelum musim hujan datang, sementara lebih dari 2 juta hektar hutan dan semak belukar terbakar selama masa el Nino tahun 1997-1998, menyebabkan kerugian hingga 9,3 milyar USD. Kebakaran tersebut juga menyebabkan kerusakan yang parah dan bermacam-macam terhadap ekonomi, politik, sosial, kesehatan, dan ekologi di Indonesia, sementara negara-negara tetangga Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand yang tergabung dalam ASEAN telah berada di suasana krisis ekonomi. Analisa satelit mengenai kebakaran di tahun 1997-1998 menjelaskan bahwa 80 persen dari kebakaran ini terkait pada pemegang ijin perkebunan atau penebangan hutan. 

Kabut asap dari kebakaran tahun 2005-2006 menyebabkan panasnya hubungan antara pemerintah Malaysia dan Indonesia. Malaysia dan Singapura telah menawarkan bantuan untuk menanggulangi kebakaran di Indonesia, sambil secara bersama-sama menimpakan kesalahan pada negara tersebut atas tidak adanya peningkatan dalam mengendalikan kebakaran. Indonesia, sebaliknya, menyalahkan perusahaan-perusahaan Malaysia karena melakukan penebangan hutan ilegal di negara itu, yang menyebabkan hutan-hutannya menjadi mudah terbakar. 

Meski ada pencegahan, termasuk permintaan Indonesia agar dapat menerapkan hukuman mati bagi penebang liar dan pembuat api, kebakaran seperti itu diperkirakan justru akan bertambah parah di masa depan saat kawasan hutan tersebut menghadapi peningkatan kekeringan akibat perubahan dan penurunan iklim. 

Kebakaran rawa gemuk di Indonesia merusak akibat muatan karbon yang tinggi di ekosistem - Dr. Susan Page, dari Universitas Leicester, mengestimasikan bahwa tanah gemuk di Asia Tenggara bisa mengandung hingga 21 persen dari selueuh karbon tanah dunia. Kebakaran di tahun 1997 melepaskan 2,67 milyar ton karbon dioksida ke atmosfer. 

Masalah Populasi 

Kebakaran di Indonesia diperparah dengan kurangnya pengarahan pada program transmigrasi pemerintah yang memindahkan keluarga-keluarga miskin dari pulau-pulau pusat yang padat ke daerah yang lebih jarang penduduknya di pulau lain. Dalam program lebih dari 2 dekade ini, lebih dari 6 juta migran - 730.000 keluarga - direlokasikan ke Kalimantan, Irian Jaya, Sulawesi, dan Sumatera. Ketidaktahuan mengenai cara bercocok tanam di daerah tersebut menyebabkan banyak transmigran dibayar rendah. Di tahun 1995, mantan Presiden Suharto mencanangkan "Proyek Satu Juta Hektar", sebuah proyek ambisius untuk memindahkan 300.000 keluarga dari Jawa ke Kalimantan Tengah dan menaikkan produksi beras hingga 2,7 juta ton per tahun. Selama 2 tahun, para pekerja menggundulkan hutan dan menggali hampir 3.000 mil kanal yang bertujuan untuk menjaga kekeringan tanah selama musim hujan dan untuk irigasi selama musim kemarau. Namun karena tanah gemuk lebih tinggi dari sungai, rencana tersebut gagal karena kanal-kanal tersebut justru membawa seluruh kelembaban keluar dari tanah gemuk. Kegagalan proyek ini ditambah dengan kekeringan selama 8 bulan akibat tahun el Nino yang intens. Di tahun 1997, tanah-tanah gemuk yang kering ini terbakar. Kebakaran di daerah lain Indonesia ini terhubung pada daerah-daerah hunian yang didirikan selama program transmigrasi. 


Penambangan 

Praktek penambangan mempunyai efek merusak pada hutan dan suku pedalaman di Indonesia. Proyek yang terbesar dan paling terkenal adalah pertambangan Freeport di Irian Jaya, dilakukan oleh Freeport-McMoran. Berbasis di New Orleans, Freeport-McMoran telah menjalankan pertambangan emas, perak, dan tembaga Gunung Ertsberg di Irian Jaya, Indonesia, selama lebih dari 20 tahun dan telah mengubah gunung itu menjadi lubang sedalam 600 meter. Seperti yang telah didokumentasikan oleh New York Times dan banyak kelompok lingkungan hidup, perusahaan pertambangan tersebut membuang limbah dalam ukuran yang mengejutkan ke dalam sungai-sungai lokal, membuat aliran dan daerah basahnya menjadi "tidak cocok untuk kehidupan akuatik". Bergantung pada petugas-petugas militer bergaji besar, pertambangan ini dilindungi oleh tentara swasta virtual yang terlibat dalam kematian sekitar 160 orang antara tahun 1975 dan 1997 di area pertambangan. 
Menurut perkiraan, Freeport menimbulkan 700.000 ton limbah setiap harinya dan limbah batu yang tersimpan di dataran tinggi - kedalaman 900 kaki di berbagai tempat - saat ini telah mencapai luas 3 mil persegi. Survey pemerintah menemukan bahwa pertambangan tersebut telah menghasilkan tingginya tingkat tembaga dan sedimen hingga hampir semua ikan menghilang dalam radius sekitar 90 mil persegi daerah basah di sepanjang sungai di sekitar lokasi mereka. 

Menyelidiki perusakan lingkungan dan praktek-praktek hak asasi manusia yang dipertanyakan di Freeport merupakan suatu tantangan tersendiri karena tambang tersebut adalah salah satu dari sumber pendapatan terbesar bagi pemerintah Indonesia. Seorang peneliti pemerintahan Indonesia menulis bahwa "produksi tambang tersebut sangatlah besar, dan perangkat pengaturannya sangat lemah, sehingga membujuk Freeport untuk menuruti permintaan menteri untuk mengurangi kerusakan lingkungan adalah bagaikan 'melukis di awan'," menurut artikel di New York Times 27 Desember 2005. 

Kroni dan Korupsi 

Manajemen hutan di Indonesia telah lama dijangkiti oleh korupsi. Petugas pemerintahan yang dibayar rendah dikombinasikan dengan lazimnya usahawan tanpa reputasi baik dan politisi licik, larangan penebangan hutan liar yang tak dijalankan, penjualan spesies terancam yang terlupakan, peraturan lingkungan hidup yang tak dipedulikan, taman nasional yang dijadikan lahan penebangan pohon, serta denda dan hukuman penjara yang tak pernah ditimpakan. Korupsi telah ditanamkan pada masa pemerintahan mantan Presiden Jendral Haji Mohammad Soeharto (Suharto), yang memperoleh kekuasaan sejak 1967 setelah berpartisipasi dalam perebutan pemerintahan oleh militer di tahun 1967. Di bawah pemerintahannya, kroni tersebar luas, serta banyak dari relasi dekat dan kelompoknya mengumpulkan kekayaan yang luar biasa melalui subsidi dan praktek bisnis yang kotor. 

Tradisi kapitalisme kroni ini mempunyai peran yang sangat penting dalam lemahnya respon pemerintah terhadap kasus kebakaran hutan pada krisis tahun 1997-1998. Menurut managing director IMF, Indonesia tidak mampu menggunakan dana reboisasi non-bujeter mereka untuk melawan kebakaran karena dana tersebut telah dialokasikan untuk proyek mobil yang gagal milik anak Suharto. Walaupun dana milyaran tersebut ditarik dari pajak kayu, dana itu telah lama digunakan sebagai cara yang tepat untuk mendistribusikan kekayaan kembali pada lingkaran elit ekonomi Indonesia, orang-orang dekat dari orang terkuat pada masa itu. IMF mengatakan bahwa dana tersebut kebanyakan telah digunakan untuk menyediakan pinjaman berbunga rendah pada perusahaan komersial kayu dan perkebunan untuk pembukaan hutan dan mengganti hutan alami tadi dengan pinus, eucalyptus, dan pohon akasia untuk produksi kertas.

Masa Depan 

Hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram. Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saat ini kebanyakan pariwisata terfokus pada sekedar liburan di pantai. Sex-tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi, dan pembangunan resort.

Source : http://world.mongabay.com/indonesian/profil.html



Saturday, 29 September 2012

Lahan Perkebunan Kelapa Sawit rebut hutan tropis


Saat ini banyak yang telah dilakukan dalam rangka pengubahan hutan hujan dengan keanekaragaman hayati milik Asia tersebut menjadi pengolahan kelapa sawit. Organisasi lingkungan hidup telah memperingatkan bahwa dengan memakan makanan yang mengandung minyak kelapa, konsumen Barat secara langsung ikut membantu perusakan habitat orangutan dan ekosistem yang sensitif. 

Jadi, mengapa perkebunan kelapa sawit saat ini luasnya mencapai jutaan hektar mencakup Malaysia, Indonesia, dan Thailand? Kenapa kelapa sawit menjadi buah panen nomor satu, mengalahkan kompetitor terdekatnya, pisang yang rendah hati? 

Jawabannya ada pada produktivitas panenan yang tidak sejalan. Sederhananya, kelapa sawit adalah bibit minyak yang paling produktif di dunia. Satu hektar kelapa sawit dapat menghasilkan 5.000 kg minyak mentah, atau hampir 6.000 liter minyak mentah menurut data dari JourneytoForever. Sebagai pembanding, kedelai dan jagung - hasil yang kerap digembar-gemborkan sebagai sumber bahan bakan biologis yang unggul - hanya menghasilkan sekitar 446 dan 172 liter per hektar. 


Selain biofuel, kelapa sawit juga dipakaikan untuk beribu-ribu kegunaan lain dari bahan-bahan makanan ke pelumas mesin hingga dasar kosmetik. Kelapa sawit telah menjadi produk agrikultur yang sangat penting untuk negara-negara tropis di seluruh dunia, terutama saat harga minyak mentah mencapai 70 USD per barrel. Sebagai contohnya, Indonesia saat ini merupakan negara penghasil minyak kelapa terbesar kedua di dunia, perkebunanan kelapa sawitnya mencakup 5,3 juta hektar di tahun 2004, menurut laporan dari Friends of the Earth-Netherlands. 

Perkebunan ini telah menghasilkan 11,4 juta ton kubik minyak kelapa mentah dengan nilai ekspor sebesar 4,43 milyar USD dan mendatangkan (secara resmi) 42,4 juta USD ke dalam kas negara. Karenanya, nilai dari minyak kelapa terus meningkat. Harganya saat ini mencapai lebih dari 400 USD per ton kubik, atau sekitar 54 USD per barrel - cukup kompetitif bila dibandingkan dengan petroleum. 

Walaupun kelapa sawit cukup sukses di Asia, namun sebenarnya ini bukan tanaman asli bagi kawasan tersebut. Kelapa sawit Afrika (Elaeis guineensis) berasal dari kawasan tropis Afrika, tersebar di hutan hujan Sierra Leone hingga Kongo, Republik Demokratis Kongo. Spesiesnya dikenalkan pada Malaysia pada awal abad ke-20 dan pertama kali ditanam untuk tujuan komersial pada tahun 1917. 

Saat ini hampir separuh dari lahan yang telah diolah dan ditanami di Malaysia merupakan lahan kelapa sawit, dan negara tersebut telah menjadi produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar, walau Indonesia dengan cepat telah menunjukkan dirinya. Kedua negara, Indonesia dan Malaysia, mengekspor produk-produk tersebut dalam jumlah besar ke Cina: ekspor Malaysia sendiri ke negara tersebut diperkirakan akan meningkat lebih dari 20 persen dari 2,9 juta ton kubik di tahun 2005 hingga lebih dari 3,2 juta ton kubik di tahun 2006, merepresentasikan hampir 1 persen dari keseluruhan nilai ekspor Malaysia. 

Minyak kelapa berasal dari buah tumbuhan tersebut, yang satu tandannya bisa mempunyai berat sekitar 40-50 kg. Seratus kilogram dari bibit minyak ini bisa menghasilkan sekitar 20 kg minyak. Tandan buah ini biasa dipanen dengan menggunakan tangan, pekerjaan yang sulit di daerah iklim tropis dimana kelapa sawit tumbuh dengan subur. Di Malaysia, kebanyakan dari pekerjaan ini dilakukan oleh tenaga kerja dari luar, kebanyakan dari Indonesia. Walau kelapa sawit dapat hidup lebih lama dari 150 tahun dan tumbuh hingga 80 kaki di alam bebas, kelapa sawit yang ditanam ini biasanya ditebang atau diracun setelah berusia 25 tahun saat tingginya telah mencapai 30 kaki. Bila lebih tinggi dari 30 kaki, maka memanen buahnya akan menimbulkan kesulitan tersendiri. 

Minyak kelapa digunakan sebagai salah satu bahan mentah dari produksi biodiesel, bahan bakar yang berasal dari minyak sayur atau lemak hewani. Pada umumnya, biodiesel ini bisa diturunkan tingkatannya dan, saat terbakar, memiliki emisi yang lebih sedikit dibandingkan dengan bahan bakar petroleum tradisional. Biasanya, biofeul ini dicampur dengan bahan bakar petroleum tradisional, walau memungkinkan pula untuk menjalankan mesin diesel hanya dengan menggunakan biodieasel, yang menjadikannya menjanjikan sebagai sumber energi alternatif pengganti bahan bakar fosil. 

Para enviromentalis umumnya mendukung biofeuls ini karena rendahnya polusi yang mereka munculkan, sementara yang lain menyetujui ide untuk mengurangi ketergantungan akan minyak di Timur Tengah karena banyak tumbuhan biodiesel dapat ditanam di kawasan lain atau bahkan diproduksi sendiri. Dengan ide ini di dalam pikiran mereka, para pembuat kebijakan dari Asia hingga Eropa telah menunjukkan ketertarikan dan memberikan dorongan untuk mempromosikan dan menggunakan biofuel tersebut. 

Jadi, kenapa penanaman kelapa sawit menuai perhatian? Untuk para environmentalis, permasalahan utama dengan minyak kelapa sebagai biodiesel terletak pada bagaimana tanaman tersebut diolah. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak area hutan alami yang dibuka di seantero Asia untuk perkebunan kelapa sawit. Perubahan ini telah menurunkan keanekaragaman hayati, meningkatkan kerentanan pada bahaya kebakaran, dan berdampak pada ketergantungan masyarakat sekitar akan produk dan jasa yang telah disediakan oleh ekosistem hutan. 

Selain hilangnya ekosistem hutan, produksi minyak kelapa, seperti yang sedang dipraktekkan saat ini, dapat menyebabkan kerusakan yang cukup parah bagi lingkungan hidup. Di tahun 2001, produksi Malaysia sebanyak 7 juta ton minyak kelapa mentah menghasilkan hingga 9,9 juta ton limbah minyak padat, fiber kelapa, dan batok, serta 10 juta ton limbah yang merusak dari minyak kelapa, yaitu campuran polusi dari batok yang hancur, air, dan residu lemak, yang mempunyai dampak negatif pada ekosistem akuatik.


Lebih jauh lagi, penggunaan pestisida, herbisida, dan pupuk berbasis petroleum secara bebas membuat yakin bahwa kebanyakan pengolahan minyak kelapa tak hanya menyebabkan polusi pada tingkat lokal, namun juga berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Melihat Malaysia merupakan salah satu dari produser yang paling efisien, produksi di daerah lain mungkin lebih berpolusi. Perkebunan di Indonesia sangat merusak karenanya setelah 25 tahun masa panen, lahan kelapa sawit kebanyakan ditinggalkan dan menjadi semak belukar. Tanah mungkin akan kehabisan nutrisi, terutama pada lingkungan yang mengandung asam, sehingga beberapa tanaman mungkin tumbuh, menjadikan wilayah tersebut tanpa vegetasi selain rumput-rumput liar yang akan mudah sekali terbakar. 

Karena alasan ini, komunitas ilmuwan sangat prihatin dengan munculnya proposal dari pemerintah Indonesia untuk mengubah kawasan terpencil dan hutan hujan dengan keanekaragaman hayati di Borneo menjadi perkebunan kelapa sawit. Usulan kawasan monokultur yang sangat luas ini dapat mengancam musnahnya keanekaragaman hayati legendaris kawasan tersebut - menurut WWF sebanyak 361 spesies hewan telah ditemukan di pulau tersebut dalam satu dekade lalu - sekaligus menelantarkan penduduk lokal, termasuk suku Dayak, penduduk asli hutan yang terkenal akan keahlian berburu dan melacaknya. 


Rencana ambisius: Menurut laporan Friend of Earth, di pertengahan 1990an Indonesia telah menyiapkan 9,13 juta hektar untuk ditanami kelapa sawit. Di tahun 2004, hanya sekitar 58 persen dari area ini yang benar-benar ditanami, walau area hutan hujan alami yang luas telah terlanjur dibuka demi produksi kelapa sawit. Contohnya, dalam makalah milik Lesley Potter dari Australian National University, walau hanya 303.000 hektar dari 2 juta hektar lahan di Kalimantan Timur yang disiapkan untuk pengembangan kelapa sawit telah ditanami, namun sekitar 3,1 juta hektar hutan telah dibuka dengan kedok pembangunan perkebunan. 

Indonesia telah mengumumkan rencananya untuk melipatgandakan produksi minyak kelapa mentahnya pada tahun 2025, suatu target yang akan membutuhkan 2 kali lipat peningkatan di hasilnya - sesuatu yang sangat mungkin melihat dari keberhasilan negara tetangganya Malaisya - atau justru memperluas daerah yang akan ditanami kelapa sawit. Laporan tersebut menyebutkan bahwa Indonesia sepertinya akan menggunakan kedua pilihan yang ada. Sesuai usulan investasi tahun 2005, yang dibuat oleh Perusahaan Perkebunan Negara PT Perkebunan Nusantara (PTPN), Indonesia akan mengembangkan sekitar 1,8 juta hektar di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, dimana kebanyakan sisa hutan yang lengkap masih ada. 

Apa yang akan terjadi bila seluruh hutan tersebut dilenyapkan? Hutan di Borneo adalah jantung di dunia. jika memang rencana itu direalisasikan, jutaan hektar hutan di Borneo akan di luluh lantahkan. kita kehilangan pemasok oksigen, penahan air, rumah bagi fauna flora, dan itu dikarenakana hanya untuk tujuan ekonomi? Apakah kelangsungan hidup kita dipertaruhkan hanya untuk rupiah yang mengalir dikantong pemerintah? Apakah nyawa kita sudah tak berharga lagi? Semoga saja rencana itu dibatalkan :D





Friday, 28 September 2012

Kebakaran Hutan di Indonesia salah siapa?



Indoneisa terbakar lagi. Asap dari api yang dinyalakan untuk membuka lahan di Kalimantan Selatan (Borneo) dan Sumatera menyebabkan tingkat polusi di Singapura, Kuala Lumpur, dan Bangkok meningkat, menyebabkan munculnya masalah kesehatan yang berkaitan dengan asap, kecelakaan lalu lintas, dan biaya ekonomi yang menyertainya. Negara-negara tetangga pun kembali menuntut adanya tindakan namun pada akhirnya tetap saja kebakaran akan berlangsung hingga datangnya musim hujan. 


Kebakaran ini - dan asap yang mencekik - telah menjadi peristiwa tahunan di Indonesia. Beberapa tahun lebih buruk dari tahun-tahun yang lain - terutama saat kondisi el Nino yang kering mengubah hutan kawasan ini menjadi sangat mudah terbakar - tapi keseluruhan trend ini tidaklah baik. Kenapa bencana kebakaran ini terus saja terjadi? 

Kesalahan seharusnya ditimpakan pertama kali pada pemerintah Indonesia atas kegagalan sistematis untuk menggalakkan hukum yang didesain untuk mengurangi tingkat penggundulan hutan yang mengejutkan di negara ini. Sejak 1990, angka-angka resmi telah menunjukkan bahwa Indonesia telah kehilangan seperempat dari keseluruhan luas hutannya. Berkurangnya hutan-hutan primer itu menjadi lebih buruk: hampir 31 persen dari hutan tua kepulauan ini telah jatuh ke tangan penambang dan pengembang lahan pada periode yang sama. Bahkan, tingkat penggundulan hutan ini tidak melambat. Berkurangnya hutan dalam satu tahun telah meningkat hingga 19 persen sejak akhir 1990an, sementara setiap tahunnya berkurangnya hutan primer telah meluas hingga 26 persen. Statistik ini seharusnya menjadi sesuatu yang memalukan bagi Indonesia dan bukti ketidakmampuan pemerintah mengatasi berkurangnya hutan dan ketidakmampuan dalam menanggulangi kroni dan korupsi. 



Berkurangnya hutan di Indonesia


Penyebab langsung berkurangnya hutan di Indonesia tidaklah kompleks. Kebanyakan penggundulan hutan adalah akibat dari penebangan hutan dan pengubahan hutan menjadi pertanian. Saat ini Indonesia menjadi eksportir kayu tropis terbesar di dunia - suatu komoditas yang menghasilkan hingga 5 milyar USD tiap tahunnya - dan produsen minyak kelapa terbesar kedua, salah satu dari minyak sayur paling produktif di dunia, digunakan di apa pun mulai dari biskuit hingga biofuel. 


Penebangan kayu secara legal berdampak pada 700.000-850.000 hektar hutan setiap tahunnya di Indonesia, namun penebangan hutan ilegal yang telah menyebar meningkatkan secara drastis keseluruhan daerah yang ditebang hingga 1,2-1,4 juta hektar, dan mungkin lebih tinggi - di tahun 2004, Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengatakan bahwa 75 persen dari penebangan hutan di Indonesia ilegal. Meskipun ada larangan resmi untuk mengekspor kayu dari Indonesia, kayu tersebut biasanya diselundupkan ke Malaysia, Singapura, dan negara-negara Asia lain. Dari beberapa perkiraan, Indonesia kehilangan pemasukan sekitar 1 milyar dollar pertahun dari pajak akibat perdagangan gelap ini. Penambangan ilegal ini juga merugikan bisnis kayu yang resmi dengan mengurangi suplai kayu yang bisa diproses, serta menurunkan harga internasional untuk kayu dan produk kayu. 

Penebangan hutan di Indonesia telah membuka beberapa daerah yang paling terpencil, dan terlarang, di dunia pada pembangunan. Setelah berhasil menebangi banyak hutan di daerah yang tidak terlalu terpencil, perusahaan-perusahaan kayu ini lantas memperluas praktek mereka ke pulau Kalimantan dan Irian Jaya, dimana beberapa tahun terakhir ini banyak petak-petak hutan telah dihabisi. Sebagai contoh, lebih dari 20 persen ijin penebangan di Indonesia berada di Papua, naik dari 7 persen di tahun 1990an. 

Selain penebangan, pengubahan hutan untuk pertanian ukuran besar, terutama perkebunan kelapa sawit, telah menjadi kontributor penting bagi berkurangnya hutan di Indonesia. Kawasan kelapa sawit meluas dari 600.000 hektar di tahun 1985 menjadi lebih dari 5,3 juta hektar di tahun 2004. Pemerintah berharap kondisi ini akan berlipat ganda dalam waktu satu dekade dan, melalui program transmigrasi, telah mendorong para petani untuk mengubah lahan hutan liar menjadi perkebunan. Karena cara termurah dan tercepat untuk membuka lahan perkebunan adalah dengan membakar, upaya ini justru memperburuk kondisi: setiap tahun ratusan dari ribuan hektar are berubah menjadi asap saat pengembang dan agrikulturalis membakar kawasan pedalaman sebelum musim hujan datang di bulan Oktober atau November. 


 Kegagalan pemerintah
Walau Indonesia memiliki hukum untuk melindungi hutan dan membatasi pembakaran pertanian, mereka diterapkan dengan sangat buruk. Manajemen hutan di Indonesia telah lama dijangkiti oleh korupsi. Petugas pemerintahan yang dibayar rendah dikombinasikan dengan lazimnya usahawan tanpa reputasi baik dan politisi licik, ini berarti larangan penebangan hutan liar yang tak dijalankan, penjualan spesies terancam yang terlupakan, peraturan lingkungan hidup yang tak dipedulikan, taman nasional yang dijadikan lahan penebangan pohon, serta denda dan hukuman penjara yang tak pernah ditimpakan. Korupsi, dikombinasikan dengan kroniism yang muncul pada masa mantan Presiden Jendral Soeharto (Suharto), telah beberapa kali merusak upaya mengendalikan kebakaran hutan: 1997, negara ini tak dapat menggunakan dana spesial reboisasi non-bujeter mereka untuk melawan kebakaran karena dana tersebut telah dialokasikan untuk proyek mobil yang gagal milik anak diktator tersebut. Saat ini pemerintah masih menolak untuk menghukum mereka yang melanggar hukum yang melarang menggunakan api untuk membuka lahan.
Ini waktunya bagi pemerintah Indonesia untuk mulai serius menangani penggundulan hutan dan kebakaran yang kerap terulang. Komitmen politis adalah kuncinya - tanpanya, sumbangan-sumbangan uang dalam jumlah besar akan terus dihamburkan tanpa menghentikan penebangan hutan ilegal dan berkurangnya hutan.

 Pemerintah sebaiknya meratifikasi Perjanjian ASEAN mengenai Polusi Asap Antar Negara, konvensi yang ditandatangani pada tahun 2002 menindaklanjuti kebakaran hutan tahun 1997-1998. PErjanjuan ini membutuhkan kerjasama multinasional untuk melawan kebakaran di kawasan tersebut. Meratifikasi perjanjian itu akan menjadi sinyal awal komitmen politis terhadap permasalahan yang ada, namun pemerintah kemudian harus melanjutkannya dengan implementasi dan inisiatif 'good governance', seperti menerapkan larangan pembakaran lahan dengan ketat. Tanpa penerapan ini, hukum tak akan ada gunanya. Indonesia tak akan lagi dapat mengabaikan aktifitas kriminal dengan kepentingan kuat. Sebagai contoh, Indonesia perlu untuk menindaklanjuti permintaan Malaysia untuk menuntut perusahaan-perusahaan Malaysia yang terlibat dalam pembakaran hutan di Kalimantan Selatan dan Sumatera. Perusahaan yang terbukti bertanggungjawab atas pembakaran ilegal, tak peduli dimana mereka berada, akan kehilangan ijin usahanya dan petugas-petugasnya di penjara. 

Saat kebakaran berkurang musim dingin ini, Indonesia seharusnya menyelidiki kemungkinan yang ditawarkan oleh pasar karbon yang muncul ini yang dapat memberikan pemasukan bagi negara dengan melindungi hutan dari pengembangan. Inovasi strategis lain - dari sertifikasi agrikultural dan kayu yang komprehensif hingga sponsor oleh pihak swasta untuk konservasi hutan - seharusnya juga tidak dilupakan. 


Kegagalan internasional 
Meski mudah untuk menyalahkan pemerintah Indonesia atas tak adanya tindakan, masyarakat internasional juga telah gagal. Daripada mengkritik Indonesia atas kekurangannya, pemerintah asing seharusnya menjanjikan keahliannya dan memberikan bantuan dalam jumlah besar. Kebakaran hutan Indonesia mempunyai dampak global dengan menghilangkan keanekaragaman hayati dan menyumbangkan gasgas rumah kaca ke atmosfer (kebakaran tahun 1997 melepaskan sekitar 2,67 milyar ton karbon dioksida). Dalam area tertentu, kebakaran ini meracuni udara dan dikaitkan dengan berkurangnya hujan. Dalam kasus dimana masalah Indonesia adalah masalah dunia, masyarakat global seharusnya meningkatkan kesempatan untuk menujukan bencana kebakaran ini dengan sikap yang pintar dan terkoordinasi dengan baik.



source : http://world.mongabay.com/indonesian/pemerintah.html







Wednesday, 26 September 2012

10 Negara Penghasil Sampah Terbanyak di Dunia!


Sampah adalah sampah bagi siapa saja. Di negara manapun, persoalan yang satu ini menjadi topik yang perlu segera dicarikan solusinya. Ada yang berhasil membuat terobosan, namun, banyak juga yang tidak. Sampah menjadi dilema. Beriku10 negara yang palingbanyak menghasilkan sampah di dunia :


1. Amerika Serikat
Sekitar 2006, Amerika Serikat menghasilkan sekitar 236 juta ton sampah per tahun. Pada tahun 2007, Amerika Serikat memproduksi 254 juta ton sampah. Mengkhawatirkan, Amerika rata-rata membuang hampir 7 pon sampah setiap hari, menurut PlanetThoughts. AS mengkonsumsi 30 persen sumber daya dunia meskipun yang menghasilkan sampah hanya 5 persen dari populasi dunia. Hal ini juga menghasilkan 30 persen sampah dunia. Hanya dalam setahun, orang Amerika membuang sekitar 26.800.000 ton makanan, 8.550.000 ton furnitur dan perabot, 6.330.000 ton pakaian dan alas kaki, dan beberapa ton limbah lainnya. Makanan, furniture dan perabotan, dan pakaian dan alas kaki adalah yangpaling banyak dibuang. 

2. Rusia
 Rusia, yang tidak terlalu jauh di belakang Amerika Serikat, memproduksi lebih dari 200juta ton sampah setiap tahun. Pada 2000, jumlah limbah yang dihasilkan setiap tahun oleh Rusia diperkirakan sekitar 207,4 ton. Jumlah itu mungkin sekali akan terus bertambah secara signifikan diatas tahun 2000 dan sekarang karena kelas menengah dan masyarakat kapitalis terus tumbuh.

3. Jepang
 Jepang memproduksi sekitar 52.360.000 ton sampah setiap tahun. Meskipun menjadinomor 3 dalam daftar, tingkat daur ulang di Jepang tinggi. 

4. Jerman
 Jerman menghasilkan sekitar 48,84 ton sampah setiap tahun. Tetapi masing-masing warga negara Jerman memproduksi sekitar 1/3 dari jumlah sampah yang dilakukan rata-rata warga negara Amerika Serikat.

5. Inggris Raya
 Di Inggris, jumlah sampah yang dihasilkan bahkan kurang dari di Jerman. Seperti Jerman, warga negara Inggris rata-rata menghasilkan kurang dari 1/3 dari jumlah sampah yang dihasilkan oleh Amerika rata-rata. 60 juta rakyat Kerajaan United memproduksi sekitar 34.850.000 ton sampah setiap tahun.

6. Meksiko
 Meskipun Meksiko memiliki wilayah yang lebih luas dari pada Inggris, Jerman dan Jepang namun sampah yang dihasilkan tidak lebih banyak dari negara-negara tersebut. Meksiko memiliki produksi limbah tahunan sekitar 32.170.000 ton. Alasan yang mungkin mengapa produksi limbah tahunan Meksiko tidak lebih tinggi dari negara-negara dalam daftar sebelumnya karena perekonomian Meksiko tidak memungkinkan untuk mengkonsumsi sampah sebanyak negara-negara kaya.

7. Perancis
 Seperti Meksiko, Perancis juga menghasilkan perkiraan jumlah 32.170.000 ton sampah. Secara keseluruhan, Perancis menganggap daur ulang sampah sebagai hal yang penting.

8. Italia
 Italia memproduksi sekitar 29.740.000 ton sampah per tahun. Sayangnya, ada krisis sampah di daerah Naples yang telah berlangsung selama 15 tahun terakhir. Krisis ini sekarang sedang ditangani, tetapi ini bukanlah tugas yang mudah.

9. Spanyol
 Spanyol memproduksi rata-rata 26.340.000 ton sampah setiap tahun, atau sekitar 1/3 berat sampah yang diproduksi oleh masing-masing Amerika.

10. Turki
Turki memproduksi rata-rata 25.990.000 ton sampah. Ini hanya sekitar setengahnya jumlah sampah yang dihasilkan oleh Jepang.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...