RSS

Sejak zaman paleolitikum hingga sekarang, bumi masih setia mendampingi kita. Namun reaksi alam dan campur tangan hitam manusia telah merusaknya! Tak ada kata terlambat. LET'S KEEP OUR EARTH!

by Oktaviani Indah Puspita. Powered by Blogger.
Leaf

Deodorant? Awas Kanker Payudara!!!!


Keringat membuat kita serba salah. Cairan yang keluar dari tubuh itu bisa merusak riasan serta menghilangkan wangi parfum. Namun demikian, dari segi kesehatan keringat memiliki peran penting karena merupakan mekanisme alami untuk menurunkan suhu tubuh saat gerah akibat kondisi lingkungan yang panas, makanan pedas, atau stress. Yang paling dicemaskan pada saat bekeringat adalah bau badan. Sebetulnya, keringat dan bau badan tidak mempunyai kaitan langsung karena keringatnya tidak berbau sama sekali.  Bau berasal dari bakteri yang bersembunyi di lipatan kulit.


Oleh karena dapat mencegah keringat secara berlebihan deodorant sering dipakai banyak orang. Namun, kini ada dugaan bahwa deodorant menjadi salah satu pencetus kanker, teruma kanker payudara. Hal ini berdasarkan beberapa alasan. Alasan pertama muncul pada tahun 1970-a. disebutkan bahwa penekanan jumlah keringat yang dikeluarkan tubuh, terutama di bagian ketiak, dengan mengoleskan deodorant antiperspirant (anti keringat) akan mengakibatkan penumpukan toksin yang memicu timbulnya kanker getah bening. Kedua pada tahun 1990-an beredar dugaan bahwa senyawa alumunium yang jamak ditemui dalam deodorant bisa mengakibatkan kerusakan DNA yang ujung-ujungnya menimbulkan penyakit kanker payudara. Ketiga, sejumlah ahli beberapa kali melakukan penelitian untuk membuktikan bahwa wanita yang sering mencukur ketiaknya, kemudian mengoleskan deodorant antiperspirant, lebih rentan terkena kanker payudara. Alasan keempat ditunjukkan dalam hasil penelitian yang diumumkan Dr. Philippa Darbre, Februari 2004. Hasil penelitian itu menyatakan bahwa senyawa kimia sintetik paraben-yang biasa digunakan kosmetika/deodorant antiperspirant agar tahan lama – ditemukan dalam 18 dari 20 kasus tumor payudara. Dr. Darbre, dosen senior bidang onkologi di Universitas Reading, Inggris, menegaskan, “Senyawa paraben memicu pertumbuhan tumor pada jaringan payudara manusia.”

Ada zat lain yang sering dikaitkan dengan deodorant, yakni antiperspirant yang sama-sama difungsikan untuk menghilangkan bau tidak sedap yang keluar pada saat tubuh berkeringat. deodorant dan antiperspirant bekerja dengan cara yang berbeda. Antiperspirant mengandung senyawa almunium yang berfungsi menekan jumlah keringat berbeda dengan deodorant yang tidak bisa menekan jumlah keringat yang keluar. Keringat inilah yang bisa menimbulkan bau badan ketika berinteraksi dengan bakteri yang ada di permukaan kulit. Pada kondisi normal, ketiak akan mengeluarkan rata-rata 400-500 mg keringat setiap 20 menit pada suhu 35 derajat Celcius. Antiperspirant mampu mengurangi jumlah produksi keringat 20-25% atau max 40% dari produksi normal. Hal itu dilakukan dengan mengecilkan pori-pori kulit yang menjadi jalan keluarnya keringat. Cairan keringat yang tertahan kemudian diserap kembali (resorpsi) oleh jaringan kulit. Persamaannya, baik deodorant maupun antiperspirant sama-sama bekerja dengan cara membunuh bakteri-bakteri yang menimbulkan bau badan.

Saat ini hampir semua jenis deodorant mengandung beberapa senyawa aktif yang berbasis pada unsure aluminium sehingga pengertian yang benar tentang definisi deodorant sering dicampuradukkan dengan antiperspirant. Jika anda membaca bagian belakang kemasan deodorant anti keringat, bahan seperti aluminium chlorohydrate, aluminum chloride, dan aluminum hydroxibromyd adalah bahan yang umum digunakan.

Deodorant yang tidak mengandung antiperspirant sebenarnya tidak berfungsi menekan jumlah keringat yang dikeluarkan tubuh. Melainkan mengandung wewangian untuk menghilangkan bau badan. Saat ini produk-produk yang laris di pasaran rata-rata mengkombinasikan deodorant dan antiperspirant. isu yang kini beredar mengatakan bahwa deodorant yang mengandung antiperspirant menyebabkan terhambatnya pembuangan racun tubuh yang selama ini keluar bersama keringat. Racun tersebut kemuadian terakumulusi pada kelenjar getah bening dan lama kelamaan dapat menimbulkan kanker.

Agar terhindar dari segala sesuatu yang tidak diinginkan, kita harus berhati-hati dalam memilih deodorant, berikut ini tips memilih deodorant.

TIPS MEMILIH DEODORANT
  1. Pilihlah deodorant yang telah terdaftar (DepKes atau badan POM)
  2.  Periksa label yang ada di dalam kemasan, pastikan nahan yang ada di dalamnya aman dan tidak dilarang.
  3. Sebaiknya kita segera menghentikan pemakaian deodorant jika terdapat reaksi yang buruk.
  4. Meski belum ada bukti bahwa kandungan antiperspirant deodorant dapat menyebabkan kanker, untuk keamanannya, pilihlah deodorant yang tidak mengandung pewangi dan pewarna.


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...